Sebatang Pohon Kedondong yang tumbuh persis di Simpang Tiga Pasar Malacanang Dusun
Ulee Tutue Desa Lancang Barat, kini berangsur mati. Amatan penulis, Senin sore
(31/07/2017), pohon yang biasa disebut "Bak Gurundoeng" dalam Bahasa Aceh
itu batangnya telah mengering, sementara kulit sekelilingnya telah terkelupas. Tidak diketahui pasti penyebab terkelupasnya kulit pohon tersebut, boleh jadi terkelupas dengan sendirinya atau sengaja dikupas untuk mempercepat kepunahan pohon tersebut. Yang jelas, hingga informasi ini diturunkan, seluruh batang bagian dalamnya sudah terlihat dengan jelas. Sementara di bagian atas, seluruh cabang
juga terlihat sudah terpangkas, kondisi ini membuat pohon yang sebelumnya terlihat rindang, kini telah menjadi gundul dan keropos.
Beberapa warga yang ditemui penulis menyayangkan kematian pohon tersebut. Mereka beralasan, "Bak Gurundoeng" yang selama ini menjadi pembatas kebun itu menyimpan sejarah tersendiri bagi warga Desa Lancang Barat khususnya Dusun Ulee Tutue. Meski demikian, tidak sedikit pula yang merasa lega dengan kepunahannya, mengingat keberadaan pohon tersebut disinyalir kerap mengganggu para pengguna jalan, khususnya kendaraan besar yang akan berbelok di persimpangan tersebut.
Salman, salah seorang penjual di Pasar Malacanang menuturkan, pohon yang besarnya sepelukan orang dewasa itu merupakan saksi sejarah kerasnya perayaan Hari Ulang Tahun Gerakan Aceh Merdeka (GAM) 4 Desember 1999. "Nyan keuh Bak Gurundoeng nyan yang dipupok-pupok ngoen Moto Reo le tentra watee nyan. Tapi adak ka dipupok-pupok lagee nyan, tetap han reubah jih bak meutuah nyan (Pohon Kedondong itulah yang pernah ditabrak Truk Reo tentara waktu itu. Namun walaupun sudah ditabrak sedemikian kuat, tetap saja pohon itu tak pernah tumbang)," ungkap Salman dalam logat Aceh yang kental.
Diceritakan, pada perayaan milad GAM tahun 1999, beberapa pemuda kampung sempat membuat sebuah gapura di persimpangan tersebut. Gapura bertuliskan "Selamat Milad GAM" itu memanfaatkan pohon tersebut sebagai salah satu tiangnya. Tentara yang datang berpatroli dengan menggunakan Truk Reo kala itu, menyangka tiang tersebut merupakan tiang buatan yang baru saja ditanam warga, hingga mereka berinisiatif menabraknya dengan truk. Namun setelah beberapa kali ditabrak, pohon yang waktu itu masih seukuran pohon pinang itu, tak kunjung tumbang. "Malah bagian keu moto yang ciep (malah bagian depan truk yang peot)," sambung Salman.
Kini, pohon tersebut telah berangsur mati. Tanpa disadari, ia telah meninggalkan kenangan manis bagi mereka yang pernah mengenalnya. Setidaknya, ia telah menyisakan sejarah dan kesan tersendiri bagi warga Malacanang.
Beberapa warga yang ditemui penulis menyayangkan kematian pohon tersebut. Mereka beralasan, "Bak Gurundoeng" yang selama ini menjadi pembatas kebun itu menyimpan sejarah tersendiri bagi warga Desa Lancang Barat khususnya Dusun Ulee Tutue. Meski demikian, tidak sedikit pula yang merasa lega dengan kepunahannya, mengingat keberadaan pohon tersebut disinyalir kerap mengganggu para pengguna jalan, khususnya kendaraan besar yang akan berbelok di persimpangan tersebut.
Salman, salah seorang penjual di Pasar Malacanang menuturkan, pohon yang besarnya sepelukan orang dewasa itu merupakan saksi sejarah kerasnya perayaan Hari Ulang Tahun Gerakan Aceh Merdeka (GAM) 4 Desember 1999. "Nyan keuh Bak Gurundoeng nyan yang dipupok-pupok ngoen Moto Reo le tentra watee nyan. Tapi adak ka dipupok-pupok lagee nyan, tetap han reubah jih bak meutuah nyan (Pohon Kedondong itulah yang pernah ditabrak Truk Reo tentara waktu itu. Namun walaupun sudah ditabrak sedemikian kuat, tetap saja pohon itu tak pernah tumbang)," ungkap Salman dalam logat Aceh yang kental.
Diceritakan, pada perayaan milad GAM tahun 1999, beberapa pemuda kampung sempat membuat sebuah gapura di persimpangan tersebut. Gapura bertuliskan "Selamat Milad GAM" itu memanfaatkan pohon tersebut sebagai salah satu tiangnya. Tentara yang datang berpatroli dengan menggunakan Truk Reo kala itu, menyangka tiang tersebut merupakan tiang buatan yang baru saja ditanam warga, hingga mereka berinisiatif menabraknya dengan truk. Namun setelah beberapa kali ditabrak, pohon yang waktu itu masih seukuran pohon pinang itu, tak kunjung tumbang. "Malah bagian keu moto yang ciep (malah bagian depan truk yang peot)," sambung Salman.
Kini, pohon tersebut telah berangsur mati. Tanpa disadari, ia telah meninggalkan kenangan manis bagi mereka yang pernah mengenalnya. Setidaknya, ia telah menyisakan sejarah dan kesan tersendiri bagi warga Malacanang.
