Awalnya saya tak
mengerti mengapa gadis-gadis sering menyebut "ija limboet" dalam
status-status mereka di jejaring sosial facebook. Pernah beberapa kali saya tanyakan hal itu
langsung pada pemilik status, namun rata-rata jawabannya hanya sebatas emoticon
senyum atau ketawa saja. Hingga suatu hari, seorang teman cewek yang sudah sangat saya
kenal menulis : "Han ek ta eh le lawet nyoe, meu ija limboet tan, pulom
musem-musem ujeun lagee nyoe, leupi keudeh."
Terus terang,
munculnya status itu membuat saya agak sedikit lega, setidaknya saya sudah
memiliki celah untuk mendapatkan jawaban dari dia. Bergegas saya inbok dia,
saya tanyakan apa maksud "ija limboet" sebagaimana yang tersebut
dalam statusnya.
Sial. Dia
mengirimkan saya gambar emoticon orang ketawa. Di bawah gambar itu dia menulis
: "Rahasia dong!" Wah, benar-benar busyet deh!
Sejak saat itu saya
berpikir, tidak ada cara lain selain harus fokus memantau postingannya, siapa
tahu suatu saat ada jawaban yang mungkin tersirat dari postingan-postingan dia
selanjutnya.
Sebenarnya
"ija limboet" itu hanyalah sebuah istilah dalam Bahasa Aceh. Dalam
Bahasa Indonesia, "ija limboet" disebut dengan selimut, yaitu kain
pembalut tubuh yang fungsinya sebagai penghalau hawa dingin. Kebiasaannya,
selimut atau "ija limboet" itu digunakan pada malam hari ketika tubuh
mulai digasak hawa dingin.
Secara garis besar,
"ija limboet" terbagi dalam 2 kategori. Ada "ija limboet"
tipis dan ada "ija limboet" tebal.
Rinciannya, "ija
limboet" tipis biasanya digunakan oleh mereka yang mendiami
wilayah-wilayah pesisir. Ini berkaitan dengan suhu atau cuaca di kawasan itu
yang cenderung panas. Sedangkan "ija limboet" tebal biasanya
digunakan oleh orang-orang yang mendiami kawasan pegunungan. Tentu saja hal ini
disebabkan oleh kondisi cuaca disana yang cenderung berhawa dingin. Yang jelas,
perbedaan iklim di dua kawasan tersebut sangat mempengaruhi penggunaan
"ija limboet."
Nah, lalu apa yang
saya lakukan setelah mendapatkan jawaban "rahasia dong" itu?
Sejak itu, saya
mulai tertarik meneliti dan mengikuti postingannya secara sembunyi-sembunyi.
Pada dasarnya dalam hati kecil, saya sudah bisa menebak bahwasanya "ija
limboet" itu hanyalah semacam kode tersendiri yang digunakan para gadis untuk
mengungkap sesuatu yang tidak mungkin diungkapkannya secara gamblang. Inilah
sebenarnya yang membuat saya jadi tertarik.
Nah, suatu malam
ketika saya sedang asyik-asyiknya memantau pergerakan teman saya itu di
jejaring sosial facebook, sebuah pesan tiba-tiba masuk : "Bang! Besok ke
rumah ya?"
"Ada acara
apa?" tanya saya.
"Saya
nikah," jawabnya, disertai gambar emoticon orang tersenyum sambil menutup
mulut.
Saya jawab saja
"oke," di depannya saya selipkan juga gambar jempol besar sebagai tanda
apresiasi atas pernikahannya. Setelah itu chat berakhir.
Malam besoknya,
ketika saya sedang asyik online sambil menikmati kue pemberian hari pernikahan
teman saya itu, tiba-tiba sang teman update status. Buru-buru saya baca. Dia
menulis : "Horeee! Nyoe baroe mangat ta eh malam, kana ija limboet."
Weleh...Weleh.
Ternyata "ija limboet" itu adalah Suami.
