Banyak yang bilang, minum kopi itu bisa menghadirkan sensasi dan kenikmatan tersendiri
bagi peminumnya. Apalagi jika sempat mengunyah butiran-butiran bubuk yang lolos
menembus kain penyaringnya yang bolong.
Aku bukan pecandu kopi. Tentu saja tidak gampang percaya dengan statemen-statemen seperti itu. Maka untuk membuktikannya, aku sengaja menyinggahi sebuah warung tepat pada suatu sore yang mendung. Terus terang tidak ada rencana lain, kecuali untuk sekedar mencoba mengecap rasa kopi. Dan aku sengaja memilih warung yang telah direkomendasikan teman sebagai warung yang paling sering membiarkan penyaring kopinya bolong.
Begitu masuk, aku melihat penjual sedang gesit-gesitnya menyaring kopi untuk para pelanggan. Dan tanpa sengaja, pandanganku langsung tertuju pada saring kopi di tangan penjual. Dalam rupa yang hitam pekat, samar-samar aku melihat air kopi muncrat dari sebuah lubang kecil di bagian samping penyaring itu. Aku bahagia, sembari berharap, saat lelaki itu menyaringkannya untukku, ada satu dua biji kopi yang lolos menyusup ke dalam gelas kopi yang kupesan.
Tak lama kemudian, lelaki itu datang membawa segelas kopi. Sungguh, bukan kubilang-bilang, aku tak sabar ingin cepat-cepat mengecapnya. Namun karena panasnya yang kelewatan, membuatku harus menunggu beberapa saat sampai air hitam itu berangsur hangat.
Setelah beberapa menit menunggu, aku pun menyeruput. Wow! Tegukan pertama begitu menggoda. Tegukan kedua nikmatnya kian terasa. Dan yang ketiga benar-benar luar biasa. Nikmat sekali memang. Sampai tegukan yang keempat, aku berhenti menelan. Sesuatu berbentuk butiran kecil sepertinya menyentuh lidah dan langit-langit mulutku. "Pasti bubuk kopi yang lolos menembus penyaring itu," pikirku.
Untuk menambah sensasi dan kenikmatan minum kopi, aku langsung mengunyah. "Tuppp," bunyi letupan kecil dari butiran yang pecah terkunyah. "Tapi, kok lembek? Bubuk kopi yang aneh!" gumamku dalam hati.
Aku berhenti mengunyah. Lalu dengan ujung jari tangan, aku meraihnya. Dan sungguh terlalu, ternyata bukan bubuk kopi, tapi seekor lalat yang sudah kempes dengan perut yang sudah terburai.
Aku bukan pecandu kopi. Tentu saja tidak gampang percaya dengan statemen-statemen seperti itu. Maka untuk membuktikannya, aku sengaja menyinggahi sebuah warung tepat pada suatu sore yang mendung. Terus terang tidak ada rencana lain, kecuali untuk sekedar mencoba mengecap rasa kopi. Dan aku sengaja memilih warung yang telah direkomendasikan teman sebagai warung yang paling sering membiarkan penyaring kopinya bolong.
Begitu masuk, aku melihat penjual sedang gesit-gesitnya menyaring kopi untuk para pelanggan. Dan tanpa sengaja, pandanganku langsung tertuju pada saring kopi di tangan penjual. Dalam rupa yang hitam pekat, samar-samar aku melihat air kopi muncrat dari sebuah lubang kecil di bagian samping penyaring itu. Aku bahagia, sembari berharap, saat lelaki itu menyaringkannya untukku, ada satu dua biji kopi yang lolos menyusup ke dalam gelas kopi yang kupesan.
Tak lama kemudian, lelaki itu datang membawa segelas kopi. Sungguh, bukan kubilang-bilang, aku tak sabar ingin cepat-cepat mengecapnya. Namun karena panasnya yang kelewatan, membuatku harus menunggu beberapa saat sampai air hitam itu berangsur hangat.
Setelah beberapa menit menunggu, aku pun menyeruput. Wow! Tegukan pertama begitu menggoda. Tegukan kedua nikmatnya kian terasa. Dan yang ketiga benar-benar luar biasa. Nikmat sekali memang. Sampai tegukan yang keempat, aku berhenti menelan. Sesuatu berbentuk butiran kecil sepertinya menyentuh lidah dan langit-langit mulutku. "Pasti bubuk kopi yang lolos menembus penyaring itu," pikirku.
Untuk menambah sensasi dan kenikmatan minum kopi, aku langsung mengunyah. "Tuppp," bunyi letupan kecil dari butiran yang pecah terkunyah. "Tapi, kok lembek? Bubuk kopi yang aneh!" gumamku dalam hati.
Aku berhenti mengunyah. Lalu dengan ujung jari tangan, aku meraihnya. Dan sungguh terlalu, ternyata bukan bubuk kopi, tapi seekor lalat yang sudah kempes dengan perut yang sudah terburai.
