-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Berita (8) Fiksi (1) Humor (5) Inspirasi (3) Lensa (3) Syair Aceh (18) Tausyiah (5)

Rezeki, Pemberian Allah Kepada Orang-Orang Yang Dikehendaki

Senin, 27 November 2017 | 12.49 WIB Last Updated 2020-08-06T08:41:08Z
Jika rezeki itu diukur dari hasil kerja keras, maka kuli bangunanlah yang akan cepat menjadi kaya. Jika rezeki itu ditentukan dari banyaknya waktu kerja, maka warung kopi yang buka 24 jamlah yang akan lebih banyak mendapatkannya, bahkan mungkin mampu mengalahkan pendapatan KFC dan Mc. Donald. Jika rezeki itu diukur berdasarkan kepintaran, maka para dosen yang bergelar panjanglah yang akan lebih banyak memperolehnya. Jika rezeki itu ditentukan dari tingginya jabatan, maka presiden dan rajalah yang akan menduduki peringkat pertama orang-orang terkaya di dunia.

Namun rezeki tidak datang karena kelebihan-kelebihan itu. Rezeki itu datang karena kasih sayang Allah, semua sudah diatur oleh-Nya.

Mengejar rezeki jangan mengejar jumlahnya. Tetapi berkahnya. (Ali bin Abi Thalib)
Rezeki akan tetap mengejarmu, meskipun engkau berlari menjauh darinya.
Kalaulah anak Adam lari dari rezekinya (untuk menjalankan perintah Allah) sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezeki itu akan tetap mengejarnya sebagaimana kematian yang mengejarnya. (HR. Ibnu Hibban No. 1084)
Ada satu kisah tentang Abdurrahman bin Auf, seorang pebisnis yang selalu gagal menjadi miskin. Suatu ketika Rasulullah SAW berkata, bahwa Abdurrahman bin Auf akan masuk surga paling terakhir, karena ia terlalu kaya. Ini karena orang yang paling kaya di dunia akan dihisab paling lama.

Mendengar ini, Abdurrahman bin Auf berpikir keras, bagaimana agar ia bisa kembali menjadi miskin supaya dapat masuk surga lebih awal.


Setelah Perang Tabuk, kurma yang ditinggalkan para sahabat di Madinah menjadi busuk. Harganya jatuh ke tingkat paling rendah. Mengetahui hal itu, Abdurrahman bin Auf pun menjual semua hartanya. Hal itu dilakukannya untuk dapat memborong semua kurma busuk milik para sahabat tadi dengan harga yang setara kurma bagus.


Para sahabat bersyukur. Alhamdulillah, kurma yang dikhawatirkan tidak laku lagi, tiba-tiba laku keras dengan harga yang setara kurma bagus, diborong semuanya oleh Abdurrahman bin Auf. Para sahabat bergembira. Abdurrahman bin Auf juga gembira. Kegembiraan para sahabat disebabkan karena semua dagangannya telah laku. Sedangkan kegembiraan Abdurrahman bin Auf, lantaran ia mengira telah jatuh miskin. Abdurrahman bin Auf merasa sangat lega, sebab ia tahu bakal masuk surga lebih awal, karena sudah miskin.


Namun, Masya Allah. Rencana Allah SWT itu memang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Tiba-tiba datang utusan dari Negeri Yaman membawa berita. Raja Yaman mencari kurma busuk. Rupa-rupanya di Yaman sedang berjangkit wabah penyakit menular, dan obat yang cocok untuk wabah penyakit itu adalah kurma busuk. Utusan Raja Yaman berniat memborong semua kurma milik Abdurrahman bin Auf dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa. Allahu Akbar.


Orang lain berusaha keras menjadi kaya. Sebaliknya, Abdurrahman bin Auf berusaha keras menjadi miskin, tapi selalu gagal. Benarlah firman Allah :

Wahai manusia, di langit ada rezeki bagi kalian. Juga semua karunia yang dijanjikan pada kalian. (QS. Adz-Dzariat : 22)
Nah, ternyata rezeki itu tidak datang dari kurma yang bagus, akan tetapi ia juga datang dari kurma yang busuk. Dan yang perlu diingat adalah rezeki itu tidak datang dari kehebatan yang dimiliki manusia, dari Allah-lah semua rezeki itu berasal. Semoga kisah ini dapat menyuntik kembali semangat dalam diri kita, yang sedang diuji dalam pekerjaan dan usaha kita untuk lebih mengutamakan urusan kepada Allah dibanding urusan dunia yang sementara ini.

Kisah di atas sesuai dengan hadits dari Zaid bin Tsabit RA, ia mendengar Rasulullah SAW bersabda :

Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak akan mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barang siapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.
Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/183), Ibnu Majah (No. 4105), Imam Ibnu Hibban (No. 72 Mawariduzh Zham’an), Al-Baihaqi (VII/288) dari Sahabat Zaid bin Tsabit RA. Lafazh hadits ini milik Ibnu Majah RA.
×
Berita Terbaru Update